cool hit counter

PDM Kabupaten Pekalongan - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Pekalongan
.: Home > Artikel > PDM

Homepage

URGENSI DAKWAH GO GREEN

.: Home > Artikel > PDM
05 Agustus 2012 14:09 WIB
Dibaca: 872
Penulis :

 

Ir. Dulsukur, Waka Kesiswaan SMK Muhammadiyah Kajen-Pekalongan

 

110320101217Baru saja kita memperingati Hari Bumi pada 22 April, yang bertujuan untuk menggugah  kepedulian warga bumi   melestarikan bumi sebagai planet yang nyaman untuk tempat tinggal manusia. Saat ini kerusakan alam yang mengancam kehidupan di bumi sudah parah sehingga semua warga bumi harus ikut ambil bagian di dalam upaya perbaikan alam, namun  masih banyak diantara kita yang belum memiliki kesadaran lingkungan, maka berbagai upaya harus ditempuh diantaranya melalui dakwah “GoGreen” di kalangan umat Islam.

Islam bersifat rahmatan lil ’alamin, kasih sayangnya meliputi segenap  alam termasuk lingkungan sekitar, bagi umat Islam perilaku ramah lingkungan adalah bagian kewajiban agama yang harus dijalankan.  Menurut KH Ali Yafie manifestasi umat Islam sebagai umat rahmatan lil ’alamin yakni mencintai alam sekitar, dalam konteks  luas menjaga kelestarian bumi tempat hidup kita, karena menurut Islam bumi ini milik Allah yang diamanatkan kepada kita untuk memeliharanya( QS. 2 : 29). 

Dunia Islam tak tinggal diam dalam menghadapi kerusakan alam. Pada 9 hingga 11 April lalu di Bogor berlangsung Konferensi Muslim untuk Perubahan Iklim  yang diikuti 16 negara muslim diantaranya Arab Saudi, Brunai,  Mesir, Iran dan negara muslim lainnya termasuk Indonesia.  Konferensi yang merupakan tindak lanjut deklarasi Muslim Seven Year Action Plan for Climate Change di Istanbul, Turki awal Juni tahun 2009 lalu itu berhasil merumuskan  rencana aksi negara muslim dalam mengatasi perubahan iklim yang saat ini terjadi dengan  membentuk Muslim Association for Climate Change Action (MACCA) dengan programnya antara lain Green City dan One Santri One Tree. 

Alam diciptakan secara seimbang terdiri atas dua komponen yaitu abiotik dan biotik. Komponen biotik terdiri dari mahluk hidup seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan termasuk bakteri dan jamur yang fungsinya menguraikan sampah menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman, kita bisa membayangkan tanpa jamur dan bakteri, bumi sudah tenggelam oleh tumpukan sampah.   Sedang komponen abiotik antara lain udara, air, cahaya, tanah yang tanpanya kita tak dapat hidup.

Kedua komponen alam itu bertugas  menjaga keseimbangan alam. Tumbuhan misalnya berfungsi menangkap sinar matahari dan karbondioksida (CO2) dan memasaknya melalui proses fotosintesis, hasilnya  berupa bahan makanan dan oksigen (O2) yang dibutuhkan mahluk hidup lainnya, disamping itu adanya fotosintesis juga menjaga  kadar CO2 di alam dalam konsentrasi normal 0,03 persen. Setiap pohon dewasa tiap jam menghasilkan oksigen 1,7 kilogram dan menyerap karbondioksida 2,35 kilogram, pada saat pepohonan ditebang secara berlebih, misalnya hutan digunduli berakibat konsentrasi CO2  meningkat alhasil terjadi pemanasan global seperti saat ini, dan berdampak terjadi perubahan iklim yang  pada akhirnya mengancam kehidupan manusia. Sebaliknya jika keseimbangan alam dapat dijaga, hutan dan tanaman kita pelihara,  maka alam akan lestari, kehidupan manusia terjamin.

Maka dari itu Allah melarang segala perbuatan yang merusak alam sebagaimana tersebut dalam QS Al-Araf ayat 56. Karena jika alam rusak manusia juga yang merasakan akibatnya, sebagaimana tertera pada QS. Ar-Rum ayat 41 yang artinya :”Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.  Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar”.  

Tampak disini adanya etika lingkungan dalam Islam yakni penerapan etika pada tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Karena lingkungan hidup yang lestari bukan saja untuk kepentingan dunia semata tetapi untuk keperluan ibadah Mahdoh seperti sholat, mutlak adanya dukungan alam yang dapat menyediakan air bersih untuk berwudlu sebagai bagian tak terpisahkan ibadah sholat sebagai tiang agama Islam. Tak heran lahirlah banyak pahlawan lingkungan di kalangan umat Islam.

Tersebutlah KH Basid, pemimpin Pondok Pesantren An Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, daerah yang terkenal kering gersang, dengan alasan menyediakan air wudlu Beliau berfikir bagaimana mengadakan air bersih di kawasan serba kering ini? Karena air tidak ada maka perlu diusahakan hutan untuk menghasilkan mata air.  Maka para santri selama bertahun-tahun membangun hutan.  Kebahagiaan para santri tak terbayangkan ketika mata air mulai timbul berkat hutan yang mereka tanam.  Dari mata air mengalirlah sungai yang jernih sehingga para santri dapat berwudlu dan mendirikan sholat secara sempurna. Di Indonesia ada sekitar 17.000 pondok pesantren dengan jutaan santri,  apabila tiap pengasuh pondok pesantren dan semua santrinya dapat mengikuti langkah KH Basid dan santrinya akan membantu pemecahan kerusakan lingkungan hidup di masing-masing daerahnya.

Kerusakan alam terjadi akibat perbuatan manusia seperti penggundulan hutan sebagaimana terjadi di negeri kita. Data pengrusakan alam Indonesia bisa dilihat dari tulisan Agus Nurdianto di harian ini (13/1) antara lain terjadi  pencurian kayu 9000 kasus pada tahun 2007 , terjadi deforestasi 2,83 ha per tahun  dan tingkat kebakaran lahan dan hutan ada 121.622 hot spot pada tahun 2006. Jumlah hutan alam Indonesia semula 130 juta Ha kini tinggal 40 juta Ha sementara 48 juta Ha kritis dan 40 juta lebih gundul akibat illegal loging, perambahan dan kebakaran. Pemerintah saat ini sedang berupaya menanam milyaran pohon untuk memperbaiki kerusakan alam Indonesia.

 Upaya penting lainnya adalah bagaimana merubah perilaku manusia agar lebih ramah lingkungan, dalam hal ini peran agama sangat strategis dalam memotivasi tingkah laku pemeluknya. Pemerintah bersama ormas keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU hendaknya secara serius membuat program dakwah lingkungan atau dakwah GoGreen.  Materi dakwah yang selama ini  berjalan dilengkapi dengan”Ayat-ayat lingkungan” sebagai bagian pendidikan lingkungan yaitu upaya mengubah perilaku dan sikap untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai dan isu permasalahan lingkungan.

Para juru dakwah diberi pemahaman tentang urgensinya menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagai bentuk ibadah sehingga umat paham betul bahwa menanam pohon itu berpahala sebaliknya merusak hutan itu berdosa. Hal itu disampaikan lewat para khatib jum’at, imam masjid dan musola, kelompok pengajian di kampung-kampung,  pengasuh pondok pesantren, dan guru-guru madrasah.

Juga dibuat program inovatif misalnya pada hari jum’at disediakan tanaman di masjid dan jamaah dapat mengambilnya seusai sholat untuk ditanam di rumah mereka, dihalaman mesjid, musola,  pondok pesantren, madrasah dan lahan kosong di sekitar mereka. Alhasil dengan dakwah GoGreen, kelompok-kelompok pengajian di pelosok- pelosok kampung  sekaligus berfungsi sebagai kelompok peduli lingkungan yang menjalankan aksi nyata, demikian pula institusi Islam lainnya.  Selain program menanam juga disosialisasikan program lainnya seperti membuat kompos dari sampah organik dan  gerakan reuse, reduksi dan recicling lainnya, dipadukan dengan upaya pemberdayaan ekonomi umat. Dipihak lain penegakan hukum bagi penjahat lingkungan dan peningkatan taraf ekomi rakyat terus dilakukan , alhasil alam kita akan terjaga dan bumi kita akan segera sembuh dari sakitnya.  Amin. 


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori :

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website